REPRESENTASI TINDAK TUTUR DIREKTIF PENUTUR JAWA PENDATANG DALAM KOMUNIKASI LISAN MASYARAKAT MULTIETNIK DI BENGKULU

Wardhana , Dian Eka Candra and Imam , Syafi’ie and Suparno, Suparno and Ah , Rofi’uddin (2014) REPRESENTASI TINDAK TUTUR DIREKTIF PENUTUR JAWA PENDATANG DALAM KOMUNIKASI LISAN MASYARAKAT MULTIETNIK DI BENGKULU. Masters thesis, Universitas Bengkulu.

[img] Text (Dissertation)
Disertasi Bu Dian.pdf - Bibliography
Restricted to Registered users only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (4MB)

Abstract

Tiga faktor sosio-pragmatik ditambah dengan dua faktor yang lain yang ditemukan sangat berpengaruh dalam komunikasi multietnik. Lima faktor yang dimaksudkan adalah, (1) jarak sosial, (2) power, (3) menjaga perasaan, (4) situasi, dan (5) nilai budaya. Jarak sosial ditemukan dalam hubungan dengan penggunaan pemertahanan bahasa etnik dan penentuan aras tutur. Semakin jauh jarak sosial, maka semakin dibutuhkan adanya pertahanan dan pemilihan penggunaan bahasa halus. Pertahanan diasosiasikan dengan jarak sosial yang bersifat timbal balik. Partisipan yang jauh secara sosial cenderung bertahan dengan bahasa etnik masing-masing atau memilih bahasa dengan aras tutur tinggi. Sementara itu. power di dalam wacana multietnis bersifat netral, dan menyebar pada semua level eksistensi sosial sehingga penggunaannya ada pada setiap situs kehidupan sosial. Power tidak hanya negatif dan represif, tetapi juga bisa positif dan produktif. Hal ini terlihat di dalam penggunaan beragamnya kata sapaan yang dapat menentukan besar dan kecilnya power seorang Pn dan beragamnya cara menyapa menunjukkan besar kecilnya power yang dapat dimanfaatkan Penutur untuk menggunakan tindak tutur sebagai sarana mempengaruhi, bahkan mendominasi pikiran, perasaan atau perilaku Mt. Selanjutnya, penjagaan terhadap perasaan ini berkaitan dengan distribusi power dan jarak sosial diantara partisipan. Semakin tinggi nilai power, semakin tinggi harga tindakan kepada mitratutur. Hal yang sama terjadi pada nilai jarak sosial. Semakin tinggi nilai jarak sosial, semakin tinggi tingkat pembebanan terhadap muka. Di samping hal di atas, variabel situasi merupakan variabel yang mempengaruhi perbedaan power, jarak sosial antara PJPB dan Mt, dan mempengaruhi tingkat pembebanan terhadap muka Mt. Terakhir adalah nilai budaya. Nilai budaya ditemukan dalam hubungannya dengan nilai budaya yang berupa idiologi seseorang, nilai-nilai estetika dan keyakinan budaya yang dianut partisipan tutur. Nilai-nilai budaya ini berkaitan dengan pengekspresian modus tindak tutur direktif.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Faculty of Education > Department of Indonesian Language and Literature Education
Depositing User: 021 Nanik Rahmawati
Date Deposited: 15 Jan 2015 08:33
Last Modified: 15 Jan 2015 08:45
URI: http://repository.unib.ac.id/id/eprint/10204

Actions (login required)

View Item View Item