MODEL PERLINDUNGAN SOSIAL BAGI PEKERJA SEKTOR INFORMAL DI KAWASAN PANTAI JAKAT KOTA BENGKULU

Osira, Yessilia and Desy , Afrita and Novi , Hendrika Jaya (2015) MODEL PERLINDUNGAN SOSIAL BAGI PEKERJA SEKTOR INFORMAL DI KAWASAN PANTAI JAKAT KOTA BENGKULU. Project Report. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Bengkulu, Universitas Bengkulu.

[img] Text (Thesis)
yessilia2.pdf - Bibliography
Restricted to Registered users only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (9MB)

Abstract

Kawasan Pantai Jakat berada di wilayah Kelurahan Bajak dan Kelurahan Pasar Bengkulu Kota Bengkulu. Pada kawasan ini ditemukan aktifitas pekerja sektor informal yang mengalami berbagai kerentanan, baik secara ekonomi maupun sosial sehingga membutuhkan berbagai upaya perlindungan sosial. Penelitian ini mengkaji perlindungan sosial bagi pekerja sektor informal di Kawasan Pantai Jakat Kota Bengkulu, meliputi; (1) profil pekerja sektor informal, (2) masalah/kebutuhan pekerja sektor informal, (3) potensi dan sumber perlindungan sosial bagi pekerja sektor informal, dan (4) menyusun rencana tindak lanjut perlindungan sosial bagi pekerja sektor informal. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) dengan pendekatan kualitatif. Pendataan dilakukan melalui wawancara, observasi, diskusi kelompok terfokus dan studi dokumentasi Validasi data dilakukan melalui uji kredibilitas, uji transferability, uji dependability, dan uji konfirmability. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisa secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, pekerja sektor informal di Kawasan Pantai Jakat Kota Bengkulu meliputi; nelayan, penarik lancang (perahu), penjual ikan, pedagang warungan (pedagang pisang dan jagung bakar), pedagang asongan, tukang parkir, tukang ojek, tukang sewa ban, dan pengamen. Dalam proses penelitian selanjutnya, peneliti lebih memfokuskan pada nelayan, penarik lancang dan pedagang warungan. Pekerja sektor informal tersebut mengalami berbagai kerentanan baik ekonomi maupun sosial. Bagi nelayan, kerentanan tersebut lebih diakibatkan oleh risiko kondisi alam yang tidak menentu seperti badai, risiko kerusakan/hilangnya kapal dan jaring, risiko adanya kapal trawl yang menggunakan pukat harimau, yang kesemuanya mempengaruhi hasil tangkapan. Penarik lancang mengalami risiko nelayan tidak melaut, risiko hasil tangkapan nelayan sedikit, dan risiko kesulitan dalam menjual ikan. Sedangkan kerentanan yang dialami oleh pedagang warungan, diantaranya risiko karena gangguan preman, risiko digusur warungnya, dan juga risiko barang dagangan tidak laku karena kurangnya wisatawan yang datang. Meskipun demikian, pekerja sektor informal tersebut juga mempunyai potensi, kemampuan dan sumber perlindungan sosial untuk mengantisipasi risiko-risiko yang ada, seperti adanya kelompok nelayan, kelompok pedagang, adanya “induk semang” bagi nelayan-nelayan yang tidak mempunyai kapal dan jaring sendiri, adanya peluang akses terhadap jaminan kesehatan masyarakat dari pemerintah, serta berbagai bantuan pemerintah dan masyarakat. Dengan menyandingkan antara permasalahan/kebutuhan, potensi, dan sistem sumber yang dapat dijangkau, maka dapat dirumuskan alternatif model perlindungan bagi pekerja informal khususnya nelayan. Model ini merupakan modifikasi sistem” induk semang” yang dipadukan dengan penguatan kapasitas nelayan melalui kelompok. Pengorganisasian ini dilakukan dengan melibatkan secara aktif kelompok nelayan, induk semang, masyarakat, pemerintah dan pihak lain yang terkait.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: J Political Science > JA Political science (General)
Divisions: Faculty of Social & Politics Science > Department of Social Welfare
Depositing User: 021 Nanik Rachmawati
Date Deposited: 26 Mar 2015 09:45
Last Modified: 26 Mar 2015 09:45
URI: http://repository.unib.ac.id/id/eprint/10697

Actions (login required)

View Item View Item