PENGARUH SKEPTISME PROFESIONAL DAN ETIKA TERHADAP WISHTLEBLOWING AUDITOR INSPEKTORAT DI PROVINSI BENGKULU

Puspita, Riska and Meiliani, Meiliani and Sugeng, Susetyo (2017) PENGARUH SKEPTISME PROFESIONAL DAN ETIKA TERHADAP WISHTLEBLOWING AUDITOR INSPEKTORAT DI PROVINSI BENGKULU. Masters thesis, Universitas Bengkulu.

[img] Archive (Thesis)
Tesis Riska Puspita Final.pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (2MB)

Abstract

Salah satu sikap yang penting dimiliki seorang auditor adalah skeptis. Skeptisme bukan berarti tidak percaya, tapi mencari pembuktian sebelum dapat menerima suatu pernyataan atau laporan. Sikap skeptisme profesional akan membawa auditor pada tindakan untuk memilih prosedur audit yang efektif sehingga diperoleh hasil audit yang tepat. Sikap skeptisme yang tinggi cenderung bekerja dengan cermat dan professional. Auditor dengan idealisme yang tinggi akan cenderung menganggap whistleblowing adalah tindakan yang penting dan dianggap sebagai auditee yang berperilaku etis. Sikap skeptis ini pula yang mendorong kemungkinan auditor untuk melakukan whistleblowing. Begitu juga dengan etika auditor. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Menganalisis pengaruh skeptisme professional dan etika terhadap wishtleblowing auditor Inspektorat di Provinsi Bengkulu; (2) Menganalisis pengaruh skeptisme professional terhadap wishtleblowing auditor Inspektorat di Provinsi Bengkulu; dan (3) Menganalisis pengaruh etika terhadap wishtleblowing auditor Inspektorat di Provinsi Bengkulu. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada auditor Kantor Inspektorat di Provinsi Bengkulu. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sensus. Jumlah sampel yang digunakan adalah 121 orang. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa (1) Skeptisme profesional dan etika berpengaruh terhadap wishtleblowing auditor. Hal ini bermakna bahwa semakin tinggi skeptisme profesional dan semakin tinggi etika dijunjung tinggi oleh auditor maka auditor memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan wishtleblowing; (2) Skeptisme profesional berpengaruh positif terhadap wishtleblowing auditor. Hal ini bermakna bahwa semakin tinggi skeptisme profesionalauditor maka auditor memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan wishtleblowing; dan (3) Etika berpengaruh positif terhadap wishtleblowing auditor. Hal ini bermakna bahwa semakin tinggi auditor menjunjung tinggi etikaaudit, maka auditor memiliki kecenderungan yang tinggi dalam melakukan tindakan wishtleblowing. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah auditor memiliki peranan penting dalam pengawasan dan pengendalian internal, melalui kewenangannya melakukan tindakan wishtleblowing. Setiap pengungkapan fakta dan temuan audit merupakan early warning dan tindakan koreksi atas laporan obrik, sehingga dapat menjadi pedoman obrik memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam pelaporan dan penyajian informasi laporan keuangan yang dilakukan. Oleh karena itu, auditor Inspektorat harus diberikan wewenang dan otoritas yang penuh tanpa intervensi pihak-pihak tertentu, sehingga laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan benar-benar objektif. Penambahan rentang waktu dalam tiap pelaksanaan audit juga perlu dilakukan agar auditor dapat menggali informasi lebih mendalam untuk mendapatkan bukti audit yang lebih banyak, sehingga berguna dalam pemberian saran dan pendapat. Selain itu, etika profesi harus dijadikan pegangan dan acuan agar hasil audit berjalan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Oleh karena itu, pelanggaran kode etik oleh auditor harus diberikan sanksi tegas atas pelanggaran tersebut. Selain itu, dalam pelaksanaan audit, auditor hendaknya tidak diintervensi dan diintimidasi dalam mengun gk apkan temuan audit , walaupun yan g diaudit adalah ‘oknum birokrat’ pada suatu institusi tertentu. Jika hal ini terjadi, seorang auditor tentu saja tidak dapat bekerja secara professional dan proporsional. Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan dan keterbatasan penelitian, maka dapat dikemukakan saran untuk penelitian selanjutnya yakni: (1) Skeptisme profesional perlu dimiliki oleh setiap auditor, karena skeptisme profesional mencermikan auditor bersikap netral, akuntabel dan objektif. Oleh karena itu, setiap auditor harus memiliki kewenangan dan otoritas penuh dalam melakukan pemeriksaan kepada obrik tanpa intervensi dan tekanan pihak tertentu sehingga auditor dapat memberikan opini secara objektif; dan (2) Auditor harus berpegang tetuh pada etika profesinya, jika auditor melakukan pelanggaran kode etik maka dapat diberikan sanksi tegas atas pelanggaran tersebut. Namun, jika auditor secara profesional mampu menjalankan tugas-tugasnya harus diimbangi dengan reward yang sesuai.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: H Social Sciences > HC Economic History and Conditions
Divisions: Postgraduate Program > Magister Manajemen
Depositing User: 022 Isran Elnadi
Date Deposited: 11 Oct 2017 08:12
Last Modified: 22 Nov 2017 08:40
URI: http://repository.unib.ac.id/id/eprint/12432

Actions (login required)

View Item View Item