PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENONTON DALAM MENONTON FILM

Novitassari, Desy and Tema Atmaja, Ferry (2016) PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENONTON DALAM MENONTON FILM. Undergraduated thesis, Universitas Bengkulu.

[img] Archive (Tesis)
skripsi pdf.pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (2MB)

Abstract

Perfilman Indonesia memiliki pertumbuhan produksi film yang tinggi di era globalisasi, namun pertumbuhan film ini tidak diikuti dengan pertumbuhan jumlah penonton film itu sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi orang untuk menonton film. Jumlah penonton film Indonesia yang fluktuatif disebabkan motif seseorang menonton berbeda serta pertimbangan-pertimbangan akan kebutuhan dalam menonton juga berbeda. Selain itu, terdapat pula faktor lain yang mempengaruhi seseorang menonton film salah satunya adalah karakteristik film dan komunikasi pemasaan. Karakteristik film terdiri dari genre film, artis yang membintangi film, sutradara film, produser film, anggaran pembuatan film dan negara asal serta bahasa yang digunakan dalam film. Sementara, komunikasi pemasaran terdiri dari iklan film dan sumber informasi netral yang berasal dai ulasan film, penghargaan yang diraih film dan Word of Mouh (WOM) yang dilakukan oleh orang-orang yang telah menonon film lebih awal. Home production film harus mengetahui terlebih dahulu, segmentasi dan terget penonton yang akan dituju agar film Indonesia yang dirilis diminati banyak penonton. Analisis kelompok-kelompok penonton berdasarkan demografi (jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan dan pendapatan) dan psikografi (kepribadian berdasarkan tipologi Myers-Brigg Type Indicator (MBTI) dilakukan oleh penulis guna mengetahui segmen dan target penonton Indonesia serta mengetahui bagaimana perilaku menonton film orang Indonesia dan proses pengambilan keputusan menonton film yang dilakukannya, dengan begitu diharapkan penonton film Indonesia dapat meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pengambilan keputusan penonton menonton film dengan memperhatikan karakteristik demografi, kepribadian berdasarkan tipologi Myers-Brigg Type Indicator (MBTI) dan perilaku menonton film serta karakteristik film dan komunikasi pemasaran film. Sampel yang digunakan dalam penelitian dalah 223 responden. Teknik pengambilan sampel adalah snowball dan purposive sampling. Data dianalisis secara statistik deskriptif dengan analisis cluster menggunakan software SPSS.16. Hasil penelitian menujukkan terdapat tiga cluster penonton film, yaitu cluster penggila film, penikmat film dan pecinta film. Profil masing-masing cluster adalah perempuan berusia 15-21 tahun bersatus sebagai pelajar dan mahasiswa. Penggila film menonton sinetron lebih dari 21 kali per minggu sementara penikmat film dan pecinta film menonton sinetron 1-7 kali per minggu. Rata-rata anggota cluster menonton fim 1-3 kali per tiga bulan. Responden dalam cluster menyukai genre film didominasi oleh aksi, drama dan romantis. Responden lebih dominan memilih menonton film di bioskop dan TV. Resonden menyukai negara asal sinetron Korea dan layar lebar adalah Hollywood dan Korea. Kepribadian penotnon film Indonesia didominasi oleh dimensi ekstrovert, sensing, thingking dan perceiving. Sementara jika dilihat secara keseluruhn kepribadian responden didominasi kepribadian dengan tipe ekstrovert, sensing, thingking dan judging. Berdasarkan dimensi dari penonton film tersebut, penonton memiliki perilaku menonton yaitu penonton menonton sinetron ataupun layar lebar bersama keluarga ataupun teman. Media menonton layar lebar yang banyak dipilih adalah bioskop. Penonton lebih menyukai genre film aksi, pertualangan dan biografi. Penonton memperhatikkan informasi mengenai karakteristik film dan komuniksi pemasaran film yang ingin ditonton. Penonton dalam memilih film dapat dipengaruhi oleh rekomendasi orang-orang yang telah menonton film lebih awal. Karakteristik film yang terdiri dari genre, artis, sutradara, produser, anggaran, negara asal dan bahasa; dan komunikasi pemsaran film yang terdiri dari iklan film,ulasan film, penghargaan yang diterima film serta Word of Mouth (WOM) mampu memberikan informasi dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan menonton film (kecuali sutradara, produser dan aggaran tidak mempengaruhi penonton dalam menonton fim). Penonton membutuhkan film sebagai hiburan dan mereka menonton film sesuai yang mereka ingikan, penonton membandingkan media dalam menonton film dan mereka cenderung memilih bioskop agar memiliki nilai prectice dan gaya hidup yang tinggi. Selain itu, penonton dalam menonton film juga agar terlihat up date. Penonton lebih memilih menonton film layar lebar saat liburan dan weekend guna menghabiskan waktu luang. Penonton akhirnya membandingkan genre, artis, sutradara, produser, anggaran, bahasa dan negara asal film seta iklan dan sumber informasi esternal yang ada sebelum menonton film dalam dimensi proses. Setelah melewati dimensi proses, penonton akhirnya menonton film sesuai dengan yang mereka ingkan. Mereka akan membandingkan ekspektasi mereka dengan kualitas film yang ditonton. Jika film yang ditonton sama atau melebihi ekspektasi mereka, penonton akan merekomendasikan film tersebut ke orang lain, namun jika film yang ditonton tidak sesuai dengan ekpektasi, penonton kecewa dan tidak merekomendasikan film ke orang lain. Pihak home production, produser, sutradara direkomendasikan untuk meproduksi tontonan dengan target anak muda yang berumur 15-21 tahun. Kualitas sinetron yang ditampilkan haruslah menarik sebagaimana film impor Hasil penelitian menujukkan terdapat tiga cluster penonton film, yaitu cluster penggila film, penikmat film dan pecinta film. Profil masing-masing cluster adalah perempuan berusia 15-21 tahun bersatus sebagai pelajar dan mahasiswa. Penggila film menonton sinetron lebih dari 21 kali per minggu sementara penikmat film dan pecinta film menonton sinetron 1-7 kali per minggu. Rata-rata anggota cluster menonton fim 1-3 kali per tiga bulan. Responden dalam cluster menyukai genre film didominasi oleh aksi, drama dan romantis. Responden lebih dominan memilih menonton film di bioskop dan TV. Resonden menyukai negara asal sinetron Korea dan layar lebar adalah Hollywood dan Korea. Kepribadian penotnon film Indonesia didominasi oleh dimensi ekstrovert, sensing, thingking dan perceiving. Sementara jika dilihat secara keseluruhn kepribadian responden didominasi kepribadian dengan tipe ekstrovert, sensing, thingking dan judging. Berdasarkan dimensi dari penonton film tersebut, penonton memiliki perilaku menonton yaitu penonton menonton sinetron ataupun layar lebar bersama keluarga ataupun teman. Media menonton layar lebar yang banyak dipilih adalah bioskop. Penonton lebih menyukai genre film aksi, pertualangan dan biografi. Penonton memperhatikkan informasi mengenai karakteristik film dan komuniksi pemasaran film yang ingin ditonton. Penonton dalam memilih film dapat dipengaruhi oleh rekomendasi orang-orang yang telah menonton film lebih awal. Karakteristik film yang terdiri dari genre, artis, sutradara, produser, anggaran, negara asal dan bahasa; dan komunikasi pemsaran film yang terdiri dari iklan film,ulasan film, penghargaan yang diterima film serta Word of Mouth (WOM) mampu memberikan informasi dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan menonton film (kecuali sutradara, produser dan aggaran tidak mempengaruhi penonton dalam menonton fim). Penonton membutuhkan film sebagai hiburan dan mereka menonton film sesuai yang mereka ingikan, penonton membandingkan media dalam menonton film dan mereka cenderung memilih bioskop agar memiliki nilai prectice dan gaya hidup yang tinggi. Selain itu, penonton dalam menonton film juga agar terlihat up date. Penonton lebih memilih menonton film layar lebar saat liburan dan weekend guna menghabiskan waktu luang. Penonton akhirnya membandingkan genre, artis, sutradara, produser, anggaran, bahasa dan negara asal film seta iklan dan sumber informasi esternal yang ada sebelum menonton film dalam dimensi proses. Setelah melewati dimensi proses, penonton akhirnya menonton film sesuai dengan yang mereka ingkan. Mereka akan membandingkan ekspektasi mereka dengan kualitas film yang ditonton. Jika film yang ditonton sama atau melebihi ekspektasi mereka, penonton akan merekomendasikan film tersebut ke orang lain, namun jika film yang ditonton tidak sesuai dengan ekpektasi, penonton kecewa dan tidak merekomendasikan film ke orang lain. Pihak home production, produser, sutradara direkomendasikan untuk meproduksi tontonan dengan target anak muda yang berumur 15-21 tahun. Kualitas sinetron yang ditampilkan haruslah menarik sebagaimana film impor menayangkan sebuah film, tayangan tersebut sesuai dengan karakter anak muda yang penuh dengan romansa namun tidak melupakan cerita kehidupan kekeluargaan karena biasanya penonton dengan usia 15-21 tahun menonton film bersama keluarganya . Selain itu dengan melihat kesuksessan film Hollywood yang banyak bergenre aksi dan kesuksesan film Indonesia bergenre aksi, para penulis skenario hendaknya membuat cerita film layar lebar bergenre aksi. Berdasarkan demografi dan perilaku menonton film terutama intensitas menonton sinetron resonden, home production juga diharapkan lebih banyak memprodusi sinetron untuk penonton yang berumur 15-21 tahun. Distribusi film juga lebih terarah dengan media bioskop, sehingga produser harus lebih banyak bekerjasama dengan bioskop-bioskop yang ada di Indonesia ataupun luar negeri untuk menyiarkan film ayar lebar yang dirilis. Kualitas film yang tercipta berdasarkan arahan sutradara memberkan penilaian kepuasan bagi para penonton. Penonton cenderung kritis untuk mencari informasi sebelum menonton film mulai dari genre, artis, sutradara, produser, anggaran, negara asal dan bahsa, iklan serta sumber informasi dari ulasan film, penghargaan dan Word of Mouth (WOM) yang tercipta dari sebuah film. Hal ini berdampak pada direkomendasikan atau tidak direkomendasikannya film yang dirilis. Karakteristik film yang dibuat juga lebih jelas berdasarkan demografi dan kepribadian penonton Indonesia, sehingga film yang tercipta nantinya memiliki karakteristik film sesuai yang diharapkan penonton Indonesia. Komunikasi pemasaran harus dikemas lebih menarik, dengan menayangkan cuplikan adegan yang menarik ditambah dengan testimony penonton yang telah menonton film, sehingga orang lain tergugah untuk menonton film tersebut. Harapannya, film Indonesia baik sinetron ataupun layar lebar khususnya mampu menembus box office, sehingga film Indonesia setidaknya diminati oleh penonton dalam negeri atau bahkan dapat diperhitungkan dalam industri perfilman internasional. Keterbatasan indikator bauran pemasaran yang berfokus pada produk,promosi dan distribusi saja menjadi keterbatasan penelitan ini. Jenis sinetron yang disukai tidak disebutkan dalam penelitian ini, sehingga jenis sinetron yang disukai tidak teridentifikasi. Selain itu, keterbatasan sampel menjadikan penelitian ini susah untuh digeneralkan secara umum untuk semua umur. Selain karakteristik film yang dijelaskan dalam penelitian ini, masih banyak karakteristik lain seperti music player, plot, sinematografi dll yang perlu diperhatiakan oleh pihak home production sebelum merilis sebuah film.

Item Type: Thesis (Undergraduated)
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions: Faculty of Economy > Department of Management
Depositing User: 163 Sugiarti Sugiarti
Date Deposited: 26 Oct 2017 04:30
Last Modified: 26 Oct 2017 04:30
URI: http://repository.unib.ac.id/id/eprint/13393

Actions (login required)

View Item View Item