MAKNA KOMUNIKASI NONVERBAL DALAM UPACARA ADAT NGAYIK-KAH (TURUN KE AIR) DI DESA SUKA JAYA KECAMATAN KEDURANG ILIR

RINAWATI, RINAWATI and Gushevinalti, Gushevinalti and Yudisiani, Yudisiani (2016) MAKNA KOMUNIKASI NONVERBAL DALAM UPACARA ADAT NGAYIK-KAH (TURUN KE AIR) DI DESA SUKA JAYA KECAMATAN KEDURANG ILIR. Undergraduated thesis, Universitas Bengkulu.

[img] Archive (Thesis)
SKRIPSI (RINAWATI-D1E012090).pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna artifak, makna kinesik, dan makna pada perlengkapan yang digunakan dalam pelaksanaan upacara adat ngayik-kah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teori interaksi simbolik, dengan jenis data yang didapatkan melalui proses wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Dibantu juga dengan data sekunder diperoleh dari jurnal, buku, dan artikel online. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa masyarakat desa Suka Jaya memaknai upacara adat ngayik-kah sebagai kegiatan yang harus dilakukan sebelum anak perempuan menginjak remaja, dan juga merupakan kewajiban orang tua untuk menyenangkan anak perempuannya. Sedangkan makna perlengkapan yang digunakan adalah daun beringin; bermakna agar meniru hal-hal yang positif dari orang, daun sirih; bermakna supaya bisa berbaur dengan masyarakat, kunyit; bermakna supaya bau badannya harum, subur dan bebas dari penyakit, jeruk nipis; bermakna supaya tangan si anak dingin dan mudah memberi rezeki serta mau berbagi, bunga sepatu; bermakna bisa menjaga dirinya dewasanya kelak, tunas kelapa; bermakna supaya bermanfaat dalam kehidupan masyarakat dan cita-citanya tercapai. Gerakan langkah kaki dimaknai supaya nantinya anak tersebut bisa mengenal dirinya sendiri, dan melangkah perlahan namun pasti untuk tetap maju dalam kehidupannya mendatang. Merentangkan tangan juga memberikan makna adanya pemberian anugerah dari tuhan kepada kita sebagai manusia, sehingga anak perempuan bisa menerima dan melewati dengan hati yang lebih terbuka. Baju adat ngayik-kah yang berwarna merah melambangkan keberanian, persaudaraan yang kuat, dan kebahagiaan. Rok songket; yang berpadu warna coklat dengan kuning. Dimana warna coklat mengngandung makna persahabatan, sedangkan warna kuning melambangkan kekayaan dan kejayaan. Baju seleher merupakan baju kedua yang digunakan jika ada pestanya perayaan setelah menari; Baju gaun berwarna putih ini melambangkan kesucian dan melambangkan perdamaian, baju gaun warna putih juga sangatlah untuk memberikan kesan sederhana dan kebersihan. Sedangkan selendang hanya digunakan sebagai alat pandukung untuk menari. Semua perlengkapan yang digunakan merupakan makna dari komunikasi nonverbal. Kata kunci : Komunikasi Nonverbal, Upacara Adat, Ngayik-kah

Item Type: Thesis (Undergraduated)
Subjects: J Political Science > JA Political science (General)
Divisions: Faculty of Social & Politics Science > Department of Communication
Depositing User: 163 Sugiarti Sugiarti
Date Deposited: 05 Feb 2018 07:54
Last Modified: 05 Feb 2018 07:54
URI: http://repository.unib.ac.id/id/eprint/15864

Actions (login required)

View Item View Item