PENGARUH PERBEDAAN LEVEL PROTEIN RANSUM PADA FASE STARTER TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM MERAWANG.

Aditya, Lintang and Kususiyah, Kususiyah and Desia, Kaharuddin (2018) PENGARUH PERBEDAAN LEVEL PROTEIN RANSUM PADA FASE STARTER TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM MERAWANG. Undergraduated thesis, Universitas Bengkulu.

[img] Archive (Thesis)
lintang aditya_E1C013031 skripsi.pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (4MB)

Abstract

Ayam Merawang merupakan ayam kampung yang berasal dari Bangka Belitung yang penyebarannya terkonsentrasi di pulau Bangka khususnya di kecamatan Merawang. Periode starter adalah fase kritis pemeliharaan ayam petelur, pada fase ini keberhasilan untuk menciptakan kondisi yang optimal bagi tumbuh kembang anak ayam hingga pullet menjadi modal dasar suksesnya peternakan ayam petelur. Setelah fase starter, ayam memasuki fase grower, pada fase grower sistem reproduksi mulai tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada fase ini kontrol pertumbuhan dan keseragaman perlu dilakukan dan pemberian protein ransum perlu diturunkan agar tidak terjadi dewasa kelamin lebih cepat yang menimbulkan telur yang dihasilkan berukuran kecil. Konsumsi dan kandungan nutrisi ransum merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan produktivitas ayam. Protein, karbohidrat, lemak, vitamin, air dan mineral, ransum dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pemberian protein berbeda pada fase starter terhadap produksi telur ayam Merawang. Penelitian telah dilakukan pada bulan Mei - Oktober 2016 di kandang Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 3 perlakuan pemberian protein ransum pada fase starter P1 : 17%, P2 : 18% dan P3 : 19% dengan 10 ulangan, masing – masing ulangan terdiri 1 ekor. Pada fase grower, semua perlakuan dilakukan penurunan protein menjadi 15%. Fase layer protein ransum yang diberikan 17%. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, umur dewasa kelamin, produksi telur, berat telur, dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan secara kumulatif (umur 20-42 minggu) konsumsi ransum ayam Merawang P1 (12432,30 g) nyata lebih tinggi dibanding P2 (11181,10 g), dan P3 (11935,00 g). Umur dewasa kelamin berkisar antara 139 - 194 hari, dengan berat badan dewasa kelamin 1097 - 1260 gram, dan berat telur pertama 28 - 34 g. Secara kumulatif capaian produksi telur P1 (57,90 butir/minggu), P2 (37,40 butir/minggu), dan P3 (40,70 butir/minggu), dengan rataan produksi telur mingguan P1 (3,05 butir/minggu), P2 (1,97 butir/minggu) dan P3 (2,14 butir/minggu). Persentase kumulatif produksi telur dengan rataan P1 (41,42%), P2 (28,14%), dan P3 (30,57%). Secara kumulatif berat telur umur 24- 42 minggu P1 (2297 g), cenderung lebih tinggi dibanding P2 (1487 g), dan P3 (1623 g). Dilihat dari ukuran telur per butir, P1 (39,1 g) relatif sama dengan P2 (39,4 g) dan P3 (39,3). Konversi ransum kumulatif ayam Merawang umur 24-42 minggu berbeda tidak nyata (P>0,05), dengan konversi ransum P1 (4,54), P2 (6,19) dan P3 (6,16). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perbedaan level protein pada fase starter P1 17%, P2 18, dan P3 19% menyebabkan konsumsi ransum pada P1 lebih tinggi dibanding P2 dan P3, tanpa memberikan perbedaan produksi telur, berat telur, dan konversi. (Program Studi Peternakan, Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu)

Item Type: Thesis (Undergraduated)
Subjects: S Agriculture > SF Animal culture
Divisions: Faculty of Agriculture > Department of Animal Science
Depositing User: 163 Sugiarti Sugiarti
Date Deposited: 04 Apr 2019 05:03
Last Modified: 04 Apr 2019 05:03
URI: http://repository.unib.ac.id/id/eprint/17696

Actions (login required)

View Item View Item