KUALITAS HIDUP PENDUDUK LANJUT USIA DI PEDESAAN BENGKULU

Darubekti, Nurhayati and Sri, Handayani Hanum (2020) KUALITAS HIDUP PENDUDUK LANJUT USIA DI PEDESAAN BENGKULU. In: Seminar Internasional Berbahasa Indonesia Forum Dewan Guru Besar Indonesia (SIBIFDGBI), 1 Oktober 2020, Pekanbaru.

[img] Text (Seminar Internasional Berbahasa Indonesia Forum Dewan Guru Besar Indonesia (SIBIFDGBI))
2020-Kualitas Hidup Lansia Hutan vs Pesisir OK.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (2MB)

Abstract

Kualitas hidup adalah konsep multi-level dan tidak berbentuk, dan populer sebagai hasil akhir dari evaluasi kebijakan publik (misalnya, hasil perawatan kesehatan dan sosial). Kualitas hidup telah didefinisikan dalam istilah makro (sosial, objektif) dan mikro (individu, subyektif). Yang pertama termasuk pendapatan, pekerjaan, perumahan, pendidikan, keadaan kehidupan lain dan lingkungan. Yang kedua meliputi persepsi kualitas hidup secara keseluruhan, pengalaman dan nilai-nilai individu, dan telah memasukkan indikator proksi terkait seperti kesejahteraan, kebahagiaan dan kepuasan hidup. Dalam beberapa tahun terakhir, lebih banyak perhatian diberikan pada peran wilayah dalam membentuk kualitas hidup masyarakat. Namun, sebagian besar penelitian teoritis tentang kualitas hidup dan kesehatan didasarkan pada penelitian lingkungan perkotaan, atau berfokus pada perbandingan persepsi kualitas hidup di perkotaan dan pedesaan. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas hidup penduduk lanjut usia di pedesaan tertentu. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF dan FGD kepada penduduk lanjut usia di dua wilayah pedesaan yaitu wilayah pesisir dan wilayah hutan hujan tropis di Provinsi Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup lansia di kawasan hutan hujan tropis lebih baik dari pada di kawasan pesisir, namun keduanya menunjukkan persamaan yaitu bahwa rendahnya kualitas hidup lansia terkait dengan kelompok umur lebih dari 70 tahun, berjenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan rendah, status tidak menikah atau janda/duda, tidak bekerja, pendapatan bulanan rendah, dan adanya dua atau lebih penyakit kronis. Pengaruh sosialobjektif ini sangat kuat, sehingga dapat menjadi kunci untuk membuka dilema 'kebijakan makro dan mikro'.

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Subjects: J Political Science > JA Political science (General)
Divisions: Faculty of Social & Politics Science > Department of Social Welfare
Depositing User: Septi Septi
Date Deposited: 04 Jan 2022 05:12
Last Modified: 04 Jan 2022 05:12
URI: http://repository.unib.ac.id/id/eprint/23730

Actions (login required)

View Item View Item