RESPON SEMAI JABON (Anthocephalus cadamba Miq.)TERHADAP FREKUENSI PENYIRAMAN DAN DOSIS PUPUK KANDANG AYAM

Pandiangan, Lamsinar and Deselina, Deselina and Efratenta Katherina, Depari (2014) RESPON SEMAI JABON (Anthocephalus cadamba Miq.)TERHADAP FREKUENSI PENYIRAMAN DAN DOSIS PUPUK KANDANG AYAM. Undergraduated thesis, Universitas Bengkulu.

[img] Text (Thesis)
IV,V,LAMP,II-14-lam-FP.pdf - Bibliography
Restricted to Registered users only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (5MB)
[img] Text (Thesis)
I,II,III,II-14-lam-FP.pdf - Bibliography
Restricted to Registered users only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (5MB)

Abstract

Kebutuhan kayu di Indonesia meningkat setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan penduduk hingga mencapai sekitar 60 juta m3 per tahun, pada tahun 2000 produksi kayu dari hutan alam sebesar 80 juta m3 tetapi pada tahun 2008 produksi dari hutan alam tersebut menurun, dimana hutan alam hanya dapat memproduksi 50 juta m3. Oleh karena itu perlu adanya pembangunan hutan tanaman, baik hutan tanaman industri (HTI) maupun hutan rakyat yang merupakan program pengelolahan hutan yang sangat penting sebagai salah satu sasaran untuk memenuhi kebutuhan kayu bagi keperluan domestik dan global (Palemba, 2013). Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) merupakan salah satu jenis unggulan yang dapat dikembangkan melalui hutan tanaman industri maupun hutan rakyat akan tetapi teknik silvikulturnya masih terbatas sehingga perlu untuk dikembangkan. Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) termasuk ke dalam kelompok kayu cepat tumbuh, dan dapat tumbuh di berbagai tipe tanah, dapat tumbuh pada ketinggian 0–1000 meter dpl, akan tetapi pertumbuhan dan produktivitasnya lebih optimal pada ketinggian 500 meter dpl, serta prospek pemasarannya cukup tinggi (Mansur dan Danu, 2010). Pada umur 5-6 tahun Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) mampu mencapai diameter 30 cm. Jauh lebih cepat dibandingkan dengan kayu alam yang membutuhkan waktu 15-25 tahun. Kayu cepat tumbuh ini memiliki karakteristik kelas awet V, kelas kuat III-IV dan berat jenis 0,29-0,56. Kayu Jabon digunakan dalam pembuatan korek api, kotak kayu, pulp, meubel dan juga kayu bangunan (Mulyana, dkk. 2011). Sekarang ini masih ada semai yang ditanam dilapangan merupakan semai yang belum mendapatkan perlakuan silvikultur, sehingga pertumbuhan semai kurang optimal. Oleh karena itu diperlukan perlakuan silvikultur seperti memodifikasi media tumbuhnya dan memperkirakan kebutuhan air untuk pertumbuhan semai, agar pertumbuhannya dilapangan menjadi lebih baik. Salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan penanaman adalah kualitas bibit yang berasal dari persemaian. Penyediaan semai yang berkualitas baik untuk penanaman dilapangan perlu memperhatikan faktor dari dalam tanaman yaitu faktor genetik seperti jenis tanaman itu sendiri maupun dari luar tanaman (lingkungan) seperti tanah, air, suhu, cahaya dan lain lain (Hidayat, 2002). Informasi mengenai respon semai jabon (A. cadamba) terhadap frekuensi penyiraman dan dosis pupuk kandang ayam dipersemaian belum diketahui, sehingga penelitian mengenai respon semai jabon (A. cadamba) terhadap frekuensi penyiraman dan dosis pupuk kandang ayam dipersemaian khususnya di Bengkulu, dikarenakan tanaman jabon belum dibudidayakan secara baik di provinsi ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon semai jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) terhadap frekuensi penyiraman dan dosis pupuk kandang ayam di persemaian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013-Januari 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial, terdiri dari 2 faktor dan 3 kali ulangan. Analisis data menggunakan analisis keragaman ( Analisis Of Varian). Apabila hasilnya signifikan maka dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penyiraman berbeda sangat nyata pada variabel tinggi semai pengamatan ke- 1, hal ini diduga karena semai masih terpengaruh dengan kondisi asal semai dimana tinggi semai yang digunakan tidak seragam. Perlakuan frekuensi penyiraman 1 kali sehari interval 1 hari (P1) merupakan frekuensi penyiraman terbaik untuk pertumbuhan semai kayu jabon. Dosis pupuk kandang ayam berbeda sangat nyata pada variabel tinggi semai, diameter semai, berat berangkasan basah akar, berat berangkasan kering akar, berat berangkasan basah tanaman bagian atas, berat berangkasan kering tanaman bagian atas, volume akar, luas daun, nilai kekokohan semai dan berbeda nyata pada jumlah daun. Interaksi antara frekuensi penyiraman dan pemberian dosis pupuk kandang pada media berbeda tidak nyata, hal ini diduga pada penelitian ini semua unit penelitian semai jabon pertumbuhannya tidak seragam karena sulit untuk mendapatakan semai jabon yang memiliki pertumbuhan seragam, sehingga pada saat penanaman dipolibag pertumbuhannya tidak serempak meskipun pada perlakuan yang sama.

Item Type: Thesis (Undergraduated)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Faculty of Agriculture > Department of Forestry
Depositing User: 033 Darti Daryanti
Date Deposited: 05 Nov 2014 03:24
Last Modified: 09 Nov 2014 14:04
URI: http://repository.unib.ac.id/id/eprint/9323

Actions (login required)

View Item View Item