Sulastri, Sulastri and Dwinardi, Apriyanto and Sempurna, Br. Ginting (2024) INSIDENSI PENGGEREK BATANG PADI KUNING (Scirpophaga incertulas WALKER) DAN PARASITOID TELUR PADA PERTANAMAN PADI DENGAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) DAN KONVENSIONAL DI DESA SUMBER AGUNG, KECAMATAN ARMA JAYA, KABUPATEN BENGKULU UTARA. Other thesis, Universitas Bengkulu.
SKRIPSI_SULASTRI - Sulas Tri.pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).
Download (2MB)
Abstract
Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan utama di Indonesia karena
sebagian besar penduduk Indonesia makanan pokoknya adalah beras. Jumlah penduduk di
Indonesia terus meningkat sehingga kebutuhan beras pun semakin meningkat. Upaya
peningkatan produksi padi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional telah diakukan,
terutama dengan penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan tahan terhadap
serangan hama dan pupuk kimia, tetapi produktifitas sering tidak sebagaimana yang
diharapkan, bahkan dapat terjadi sebaliknya, mengalami penurunan. Budidaya padi sering
menghadapi permasalahan infestasi hama dan penyakit tanaman yang dapat menyebabkan
kerusakan tanaman padi dan kehilangan hasil, bahkan sampai pada tingkat kegagalan
panen. Salah satu spesies hama tanaman padi yang sering menimbulkan kerusakan dan
kehilangan hasil adalah penggerek batang padi kuning (PBPK), Schirpophaga insertulas
Walker.
PBPK merupakan yang terpenting di antara lima spesies penggerek batang padi
yang ada di Indonesia. Kerusakan anakan tanaman padi di lapangan karena serangan
PBPK, menjadi hambatan serius dalam program peningkatan produksi pangan nasional.
Pengendalian penggerek batang padi yang dilakukan oleh sebagian besar petani di
Bengkulu, masih bertumpu pada penggunaan insektisida sintetik, karena dianggap cara
mudah untuk mengendalikan hama dan mempertahankan potensi produktivitas tanaman.
Cara ini sering tidak efektif dan dapat berakibat pada resistensi dan resurjensi hama hama
menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap konsumen dan lingkungan. Pengendalian
untuk menanggulangi masalah sebaiknya dengan mengimplementasikan konsep
pengelolaan hama terpadu (PHT), yang menekankan aspek monitoring ekosistem tanaman
dan upaya memaksimalkan pengendalian alami dengan mengurangi penggunaan pestisida
kimia. Sistem konvensional, sebaliknya mengutamakan menggunakan pestisida untuk
pengendalian hama tanpa mempertimbangkan monitoring kehadiran hama dan musuh
alaminya. Peran musuh alami untuk mengendalikan serangga-serangga hama, terutama
pada tingkat parasitasi telur di lapangan perlu dipertahankan.
Informasi parasitoid telur penggerek batang padi kuning sebagai faktor pengendali
alami di Bengkulu sangat terbatas. Ada tiga jenis parasitoid yang memarasit kelompok
telur PBPK yang dilaporkan daerah lain, sedangkan diketahui hanya ada dua jenis
parasitoid telur penggerek batang padi yang pernah dilaporkan di Bengkulu adalah
Telenomus rowani Gahan dan Tetrastichus schoenobii Farriere kecuali keberadaan
Trichogramma japanicum Ahmed. Pengamatan lapangan di areal persawahan perlu
dilakukan, untuk mempelajari insidensi dan potensi di dalam mempengaruhi populasi
serangga inangnya. Pengetahuan tentang potensi musuh alami diperlukan untuk upaya
pengembangan atau konservasi. PHT diharapkan mampu meningkatkan peran parasitoid
telur dan mengurangi serangan PBPK.
Penelitian ini dilakukan pada ekosistem persawahan di Desa Sumber Agung,
Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara pada bulan September-November,
2021. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan insidensi PBPK musiman, populasi
kelompok telur, jenis parasitoid telur dan tingkat parasitasinya pada telur PBPK pada
sistem PHT dan konvensional. Penelitian ini dilakukan pada petak pengamatan seluas
kurang lebih 7000 m2, yang ditanami dengan varietas Arjuno pada kedua sistem
pengelolaan hama. Tanaman padi ditanam dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm.
Pemupukan dilakukan dengan pupuk organik untuk pemupukan I dan pupuk kimia untuk
pemupukan II dan III. Tanah di lokasi percobaan bersifat asam dengan pH 4,6. Pengapuran
dilakukan dengan dosis 2 ton per Ha, dilakukan sebelum pengolahan tanah. Pupuk organik
adalah Petro-organik dengan dosis 1.500 kg per Ha dan untuk pupuk kimia digunakan
pupuk NPK tunggal (Urea: 100 kg/Ha, SP-36: 50 kg/Ha, KCl: 50 kg/Ha) dan mono kalium
fosfat (MKP: 5 kg/Ha). Gandasil D (1 kg/Ha) Gandasil B (1 kg/Ha), dan ZPT (GIBGRO: 2
kg per Ha) diberikan untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan generatif.
Pemupukan diberikan 3 kali pada tanaman umur 7, 21, dan 42 hari setelah tanam (HST).
Pengamatan kelompok telur dan anakan tanaman padi terserang PBPK dilakukan
pada unit sampel 1 m2 (16 rumpun), pengamatan tanaman sampel ditetapkan secara acak
sebanyak 10 sampel per ulangan (3 petak ulangan) sistem PHT dan petak Konvensional
yang diatur mengikuti rancangan acak kelompok (RAK). Pengumpulan kelompok telur
PBPK untuk dilihat kemunculan parasitoidnya dilakukan pada petak perlakuan PHT dan di
luar sampel untuk pengamatan kerusakan. Pengamatan dilakukan sekali setiap minggu,
sebanyak 11 kali selama musim tanam. Pengamatan pertama dilakukan pada tanaman padi
berumur 21 hari setelah tanam (HST) pada kedua sistem PHT dan konvensional. Koleksi
kelompok telur PBPK dilakukan. Telur hasil koleksi dipelihara dan menyimpannya di
dalam tabung reaksi yang sudah disiapkan dengan memberi kapas basah setiap ujung
tabung, untuk mengetahui jenis-jenis parasitoid yang muncul dan tingkat parasitasinya.
Parasitoid yang muncul diamati di bawah mikroskop stereo dan diidentifikasi dengan
mengikuti kunci identifikasi dari Heindrichs (1994), dilakukan sampai tingkat famili dan
genus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tingkat serangan PBPK dalam
satu musim tanam masih termasuk ringan. Kumulatif persentase serangan PBPK lebih
tinggi pada petak konvensional dibanding dengan pada petak PHT, masing-masing
11,22% dan 17,66%. Jumlah anakan terserang PBPK pada kedua perlakuan sedikit
berfluktuasi, tetapi secara umum meningkat mengikuti umur tanaman. Hasil analisis rerata
jumlah anakan terserang pada tanaman umur 63 hari HST menunjukkan bahwa jumlah
anakan terserang pada perlakuan PHT dan konvensional tidak berbeda nyata (F= 1, 24; P =
0, 2698), namun secara persentase berbeda nyata anakan terserang tanaman umur 63 HST
pada petak PHT dan petak konvensional (F= 10, 13; P= 0, 0024).
Jumlah kelompok telur PBPK pada petak pertanaman dengan sistem PHT dan pada
petak pertanaman dengan sistem konvensional berfluktuasi. Jumlah kelompok telur
tertinggi terjadi pada pengamatan ke enam (56 HST), jumlah kelompok telur sedikit lebih
tinggi pada petak tanaman dengan sistem PHT dibandingkan dengan pada sistem
konvensional. Perbedaan yang mencolok terjadi pada pengamatan 56 HST, pada sistem
PHT > 3 kali lipat dibandingkan dengan pada sistem konvensional (F= 4,91; P= 0,0308).
Pada perlakuan PHT bibit yang digunakan lebih muda, sehingga pertumbuhan tanaman
padi masih bertekstur lunak sesuai dengan bentuk larva PBPK dan cocok untuk
perkembangan pertumbuhannya. Parasitasi yang tinggi mungkin menjadi salah faktor yang
menyebabkan rendahnya tingkat serangan PBPK.
Hasil identifikasi terdapat perbedaan karakteristik morfologi, parasitoid yang
ditemukan memarasit telur PBPK ada dua jenis, dari identifikasi sesuai dengan ciri
morfologi genus Tetrastichus sp. (Famili Eulopidae) dan Telenomus sp. (Famili
Scelionidae). Parasitoid total dari kedua sistem tinggi pada petak PHT yaitu 1.152 ekor,
masing-masing 393 ekor untuk Tetrastichus sp. dan 759 ekor untuk Telenomus sp. Jumlah
total parasitoid pada petak konvensional lebih rendah, yaitu 840 ekor, masing-masing 252
ekor untuk Telenomus sp. dan 588 ekor untuk Tetrastichus sp. Secara umum, sistem PHT
lebih unggul dibandingkan dengan sistem konvensional.
Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | S Agriculture > S Agriculture (General) |
| Divisions: | Faculty of Agriculture > Department of Plant Protection |
| Depositing User: | Sugiarti, S.IPust |
| Date Deposited: | 08 Oct 2025 04:27 |
| Last Modified: | 08 Oct 2025 04:27 |
| URI: | http://repository.unib.ac.id/id/eprint/28193 |

