Siadari, Krisna Sabam and Wahyudi, Arianto and Agus, Susatya (2026) STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI HUTAN PEGUNUNGAN TINGKAT POHON DAN TIANG DI GUNUNG MASURAI TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT (TNKS) BIDANG PENGELOLAAN WILAYAH I SEKSI PENGELOLAAN WILAYAH II KECAMATAN LEMBAH MASURAI KABUPATEN MERANGIN PROVINSI JAMBI. Other thesis, Universitas Bengkulu.
Skripsi Krisna Sabam Siadari 2-1 - Krisna Sabam Siadari.pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).
Download (5MB)
Abstract
Struktur dan komposisi vegetasi hutan pegunungan bagian atas merupakan dasar
penting dalam pengembangan pengelolaan hutan secara lestari karena mencerminkan
susunan, dominasi jenis, serta keterkaitan dengan faktor lingkungan. Hutan pegunungan
bagian atas umumnya memiliki pohon-pohon yang dapat mencapai tinggi hingga ±57 meter,
membentuk tajuk rapat yang menciptakan iklim mikro khas dengan kondisi lantai hutan yang
gelap dan lembap. Kepadatan vegetasi yang tinggi berpengaruh langsung terhadap struktur
dan komposisi penyusun ekosistem hutan pegunungan atas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi serta
kondisi faktor lingkungan hutan pegunungan di Gunung Masurai, Taman Nasional Kerinci
Seblat (TNKS), Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Lokasi penelitian berada di Desa
Renah Alai, Kecamatan Jangkat. Kegiatan penelitian dilaksanakan sepanjang Januari–
Desember 2025, dengan pengambilan data lapangan pada Januari 2025. Secara administratif
kawasan termasuk Resort TNKS Merangin Selatan, SPTN Wilayah II Bungo, BPTN
Wilayah I Jambi, Balai Besar TNKS. Metode yang digunakan adalah transek sepanjang 100
m yang ditempatkan secara sistematis pada sembilan strata ketinggian dari 1.700–2.500
mdpl dengan interval 100 m. Plot berbentuk persegi berukuran 20 × 20 m untuk tingkat
pohon dan subplot 10 × 10 m untuk tingkat tiang, dengan total 36 plot. Kriteria pohon
berdiameter >20 cm dan tiang 10–20 cm.
Hasil inventarisasi menunjukkan vegetasi tingkat pohon dan tiang tersusun atas 21
spesies dari 13 suku dengan total 264 individu, terdiri dari 142 individu pohon dan 122
individu tiang. Komposisi vegetasi didominasi suku Fagaceae dan Lauraceae yang masing�masing memiliki tiga jenis, sedangkan 11 suku lainnya hanya terdiri dari satu hingga dua
jenis. Dominasi ini mencerminkan karakter hutan pegunungan atas bertipe Fago–
Lauraceous. Jenis Fagaceae yang ditemukan antara lain Lithocarpus pseudoreinwardtii,
Lithocarpus bennettii, dan Quercus oidocarpa, sedangkan Lauraceae meliputi
Eusideroxylon zwageri, Actinodaphne maingayi, dan Beilschmiedia sp.
Pada tingkat pohon ditemukan 20 jenis dengan indeks keanekaragaman (H’) 2,79,
sedangkan tingkat tiang terdiri dari 19 jenis dengan H’ 2,76; keduanya tergolong
keanekaragaman sedang–tinggi. Jenis yang paling dominan pada kedua tingkat adalah
iv
v
Dacrydium elatum. Dominasi ini berkaitan dengan kesesuaian kondisi habitat, terutama
kelembapan tinggi dan suhu relatif rendah yang mendukung pertumbuhannya.
Faktor lingkungan menunjukkan perubahan seiring peningkatan ketinggian. Pada
1.700 mdpl suhu 21,9–25,9°C, kelembapan 75,2%, pH tanah 6,2, dan intensitas cahaya 443
W/m². Pada 2.200 mdpl suhu turun menjadi 16,7–18,0°C, kelembapan naik menjadi 83,5%,
pH 6,2, dan cahaya 275 W/m². Pada 2.500 mdpl suhu terendah 13,6–14,0°C, kelembapan
tertinggi 90,1%, pH lebih asam 5,5, dan cahaya 373 W/m². Secara umum, kenaikan
ketinggian menyebabkan penurunan suhu, peningkatan kelembapan, tanah lebih asam, dan
variasi intensitas cahaya, yang berpengaruh kuat terhadap struktur dan komposisi vegetasi.
Curah hujan memperlihatkan tiga puncak, yaitu Januari (476 mm), Juni (460 mm),
dan November (472 mm), sedangkan terendah pada Juli (200 mm) dan masih termasuk
kategori normal. Curah hujan turut memengaruhi sifat fisik dan kimia tanah. Tekstur tanah
pada tiga ketinggian didominasi fraksi pasir (51,45–75,99%) dengan kandungan liat dan
debu lebih rendah, sementara unsur kimia tanah menunjukkan kandungan N 0,63–0,80%, C
5,04–7,38%, P 9,11–12,19 ppm, K 0,26–0,62 me/100 g, dan Al 0,95–2,76 me/100 g.
Berdasarkan diagram segitiga tanah, seluruh titik termasuk tekstur lempung berpasir dengan
indikator kesuburan relatif tinggi. Secara keseluruhan, variasi ketinggian, iklim, dan sifat
tanah membentuk karakter struktur dan komposisi khas hutan pegunungan atas Gunung
Masu
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | S Agriculture > S Agriculture (General) S Agriculture > SD Forestry |
| Divisions: | Faculty of Agriculture > Department of Forestry |
| Depositing User: | Sugiarti, S.IPust |
| Date Deposited: | 01 Jul 2026 02:41 |
| Last Modified: | 01 Jul 2026 02:41 |
| URI: | https://repository.unib.ac.id/id/eprint/33256 |

