ANALISIS PENGARUH ANGIN MONSUN TERHADAP PERUBAHAN POLA CURAH HUJAN DI PROVINSI BENGKULU

Pakpahan, Yelsa Vanessa and Muhammad, Faiz Barchia and Priyono, Prawito (2026) ANALISIS PENGARUH ANGIN MONSUN TERHADAP PERUBAHAN POLA CURAH HUJAN DI PROVINSI BENGKULU. Other thesis, Universitas Bengkulu.

[thumbnail of Thesis] Archive (Thesis)
Draft Skripsi Yelsa Pakpahan_E1F021020 FIXX - Yelsa Pakpahan.pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (4MB)

Abstract

Monsun adalah salah satu faktor yang mempengaruhi cuaca dan iklim di wilayah
Indonesia. Aktivitas monsun yang mempengaruhi wilayah Indonesia termasuk Provinsi
Bengkulu, variabilitas curah hujan pada musim kemarau dipengaruhi oleh monsun
Australia dan variabilitas curah hujan di musim hujan dipengaruhi oleh monsun Asia.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh angin monsun terhadap perubahan
pola curah hujan, serta menemukan pola curah hujan di wilayah Provinsi Bengkulu tahun
2013-2022. Data yang digunakan meliputi data angin zonal pada lapisan 850 hPa dari
ECMWF (European Centre for Medium-Range Weather Forecasts) ERA5 dan data curah
hujan pada tahun 2013-2022. Metode yang digunakan yaitu dengan mengkompilasi data
angin untuk mendapatkan indeks monsun yang digunakan untuk pengelompokan data
serta data curah hujan dikelompokan berdasarkan zona musim, kemudian dilanjutkan
dengan uji statistik. Hasil penelitian menunjukkan puncak terjadinya AUSMI (Australian
Monsoon Index) terjadi pada Mei-Oktober, hal ini menunjukkan dominasi angin Timur
yang kuat yang membawa udara kering dari Benua Australia ke wilayah Indonesia yang
menyebabkan peningkatan intensitas musim kemarau. Puncak terjadinya WNPMI
(Western North Pacific Monsoon Index) terjadi pada Juni-Oktober dimana nilai positif
menunjukkan adanya aktivitas monsun Barat pada bulan tersebut. Namun hal tersebut
terjadi di belahan Utara dimana udara lembab berpusat di area Utara dan meningkatkan
udara lembab di area tersebut, sehingga di belahan Selatan relatif menerima lebih sedikit
kelembapan dan mengakibatkannya lebih kering. Kemudian, nilai negatif menunjukkan
udara lembab bergeser ke arah Selatan (maritime continent) dengan pusat koveksi lebih
ke arah Selatan, hal ini meningkatkan potensi hujan di area Sumatera termasuk Provinsi
Bengkulu sehingga puncak terjadinya monsun Barat di belahan Selatan yaitu pada
November, Desember-April. Terdapat dua puncak hujan utama setiap tahun yaitu pada
bulan DJF (Desember-Februari) dan SON (September-November). Pola ini terjadi karena
pengaruh angin monsun Asia yang membawa udara lembap dari Samudera Hindia dan
menyebabkan musim hujan. Ketika angin monsun Australia mulai berpengaruh, intensitas
hujan cenderung berkurang yang menandai dimulainya musim kemarau.
(Program Studi Ilmu Tanah, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakul

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Faculty of Agriculture > Department of Soil Science
Depositing User: Sugiarti, S.IPust
Date Deposited: 02 Jul 2026 03:06
Last Modified: 02 Jul 2026 03:06
URI: https://repository.unib.ac.id/id/eprint/33341

Actions (login required)

View Item
View Item