TINGKAT KEMISKINAN MULTIDIMENSIONAL DI PROVINSI BENGKULU

Dinda Claudia Manalu, Jesica and Purmini, Purmini (2026) TINGKAT KEMISKINAN MULTIDIMENSIONAL DI PROVINSI BENGKULU. Other thesis, Universitas Bengkulu.

[thumbnail of Thesis] Archive (Thesis)
mau buat cd fiks - Jesicadindaclaudia Manalu.pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).

Download (1MB)

Abstract

Penanggulangan kemiskinan menghadapi tantangan terkait pemahaman
faktor penyebab dan ketepatan program, karena pengukuran kemiskinan selama ini
umumnya menggunakan pendekatan moneter yang menitikberatkan pada
pendapatan atau pengeluaran. Sejak 1980-an, pendekatan ini mendapat kritik,
terutama melalui pendekatan kapabilitas yang dikemukakan Amartya Sen, yang
menekankan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan rendahnya
pendapatan, tetapi juga merupakan kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan
dasar dan mengembangkan kapabilitasnya. Oleh karena itu, kemiskinan dipahami
sebagai fenomena multidimensional.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi secara komprehensif kondisi
kemiskinan multidimensional di Provinsi Bengkulu pada tahun 2023. Unit analisis
penelitian terdiri dari 5.740 rumah tangga di sepuluh kabupaten/kota berdasarkan
data Susenas 2023. Pengukuran kemiskinan dilakukan menggunakan metode
Alkire-Foster dengan tiga dimensi utama, yaitu: kesehatan (konsumsi protein dan
kalori), pendidikan (rata-rata lama sekolah dan partisipasi sekolah), serta standar
hidup layak (akses sanitasi, sumber air minum, bahan bakar memasak, sumber
pencahayaan, jenis lantai rumah, dan kepemilikan aset).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi kesehatan, jumlah
rumah tangga yang terdeprivasi protein lebih tinggi dibandingkan kalori, dengan
Kota Bengkulu sebagai wilayah dengan tingkat deprivasi tertinggi. Pada dimensi
pendidikan, deprivasi rata-rata lama sekolah lebih dominan dibanding partisipasi
sekolah, dengan tingkat tertinggi di Kabupaten Bengkulu Tengah, sedangkan
deprivasi partisipasi sekolah tertinggi berada di Kabupaten Rejang Lebong. Untuk
vii
dimensi standar hidup layak, deprivasi terbesar terjadi pada akses terhadap sumber
air minum layak dan sanitasi, dengan tingkat tertinggi di Kabupaten Bengkulu
Tengah dan Kabupaten Lebong. Dengan demikian, permasalahan utama
kemiskinan multidimensional di Provinsi Bengkulu terletak pada dimensi
kesehatan (khususnya konsumsi protein), diikuti dimensi pendidikan (rata-rata
lama sekolah), dan terakhir dimensi standar hidup layak (akses air minum dan
sanitasi).
Secara agregat, jumlah penduduk miskin multidimensional terbesar terdapat
di Kota Bengkulu, Bengkulu Utara, dan Kepahiang; intensitas kemiskinan tertinggi
tercatat di Kepahiang, Bengkulu Tengah, dan Lebong; sedangkan nilai Indeks
Kemiskinan Multidimensi (MPI) tertinggi terdapat di Mukomuko, Kepahiang, dan
Kota Bengkulu. Secara umum, tingkat kemiskinan multidimensional di Provinsi
Bengkulu tergolong rendah. Upaya pengentasan kemiskinan multidimensional
perlu tidak hanya menurunkan jumlah rumah tangga miskin, tetapi juga
memperhatikan tingkat keparahan deprivasi yang dialami, sehingga kebijakan
dapat disesuaikan dengan karakteristik dan indikator dominan di masing-masing
wilayah.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions: Faculty of Economy > Department of Development Economics
Depositing User: 56 nanik rahmawati
Date Deposited: 08 Jul 2026 10:59
Last Modified: 08 Jul 2026 10:59
URI: https://repository.unib.ac.id/id/eprint/33536

Actions (login required)

View Item
View Item