Br Tambunan, Lestari Roma Kasih and Djamilah, Djamilah and Dwinardi, Apriyanto (2024) EFEKTIVITAS BUBUK KENCUR, JAHE DAN TEMULAWAK TERHADAP Sitophilus oryzae L. (COLEOPTERA : CURCULIONIDAE) DAN KEHILANGAN BOBOT BERAS. Other thesis, Universitas Bengkulu.
SKRIPSI LESTARI ROMA KASIH BR TAMBUNAN 2024 - Lestari Roma Kasih Br Tambunan.pdf - Bibliography
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons GNU GPL (Software).
Download (2MB)
Abstract
Kumbang beras (Sitophilus oryzae L.) merupakan salah satu hama penting pada
beras di penyimpanan (gudang). Serangga ini mampu mencapai populasi tinggi, 28,33 -
235,76 ekor dalam 250 g beras dengan tingkat kerusakan yang dapat mencapai 6,66 -
27,02% meskipun ada pengendalian dengan insektisida kimia. Pengendalian menggunakan
insektisida kimia berpotensi meninggalkan residu pada beras dan membahayakan
kesehatan konsumen, oleh karena itu diperlukan alteratif pengendalian yang aman dan
ramah lingkungan. Bahan nabati dari tanaman kencur (Kaempferia galangal L.), jahe
(Zingiber officinale Rosc.) dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) yang diketahui
memiliki kandungan senyawa sekunder. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari
pengaruh dosis bubuk kencur, jahe dan temulawak terhadap mortalitas dan pertambahan
populasi S. oryzae.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Proteksi Tanaman Universitas Bengkulu pada
bulan Oktober sampai dengan Desember 2023. Serangga uji diperbanyak dengan
menginfestasikan sebanyak 100 ekor S. oryzae ke dalam 0,5 kg beras. Beras yang sudah
diinfestasi S. oryzae kemudian didiamkan selama 2-7 hari agar dapat bereproduksi dan
diperoleh serangga uji yang homogen. Bahan yang digunakan (jahe, kencur, temulawak)
dikeringanginkan, kemudian bahan yang sudah kering diblender sampai halus dan diayak
menggunakan ayakan berukuran 20 mesh. Setiap jenis bubuk rempah dimasukkan ke
dalam kantung kain berdasarkan dosis bubuk yang sudah ditetapkan. Penelitian
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama adalah jenis bahan
(bubuk bahan kering) yang digunakan: bubuk kencur (K), bubuk jahe (J) dan bubuk
temulawak (T). Faktor kedua adalah dosis bubuk yang di masukkan ke dalam beras:
Kontrol atau tanpa bubuk (C), 1 g bubuk 100-1 g beras (G1), 2 g bubuk 100-1 g beras (G2),
dan 3 g bubuk 100-1 g beras (G3). Semua perlakuan diulang sebanyak 5 kali, sehingga
diperoleh 50 satuan percobaan. Beras IR32 sebanyak 100 g dimasukkan ke dalam stoples
dan diinfestasikan 5 pasang S. oryzae yang muncul dalam minggu yang sama. Semua
stoples yang sudah diinfestasi dengan S. oryzae dan diperlakukan dengan bubuk rempah
ditata di atas meja mengikuti rancangan acak lengkap (RAL). Variabel yang diamati yaitu :
mortalitas, lama waktu kematian, kemunculan serangga baru (F1) dan persen kehilangan
bobot beras.
Jenis bubuk yang digunakan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata
terhadap mortalitas dan lama waktu kematian S. oryzae. Pada pembandingan
kecenderungan (trend comparison) menunjukkan hasil linier yang sangat nyata antara
mortalitas dan lama waktu kematian terhadap dosis bubuk bahan kering yang diberikan.
Dosis yang digunakan belum efektif untuk mengendalikan S. oryzae karena mortalitas
yang dihasilkan dari ketiga jenis bahan yang digunakan masih sangat rendah. Pada dosis
tertinggi hanya mampu memberikan mortalitas 10,00% (percobaan 1) dan 18,00%
(percobaan 2). Peningkatan mortalitas pada waktu tertentu mengikuti pertambahan dosis
yang diberikan, sehingga untuk memperoleh mortalitas yang diharapkan perlu
meningkatkan dosis sampai batas tertentu.
Kemunculan F1 pada perlakuan terjadi penurunan, semakin tinggi dosis yang
diberikan maka semakin rendah kemunculan F1 S. oryzae. Hal tersebut disebabkan karena
semakin tinggi dosis bubuk yang diberikan maka mortalitas semakin meningkat, sehingga
jumlah imago yang hidup sudah berkurang dan hanya sedikit jumlah telur yang dapat
dihasilkan untuk kemunculan F1. rerata kemunculan F1 pada bubuk kencur lebih tinggi, dan
yang terendah terjadi pada penggunaan bubuk temulawak. Setiap jenis bubuk memiliki
kebutuhan jumlah dosis yang berbeda-beda untuk menekan kemunculan F1 S. oryzae. Hasil
replikasi regresi linier yang dilakukan diketahui bahwa, bubuk bahan kering temulawak
dibutuhkan lebih sedikit dibandingkan dengan bubuk bahan kering jahe dan kencur.
Rerata persen kerusakan beras tertinggi terjadi pada perlakuan bubuk bahan kering
kencur kemudian diikuti oleh bubuk bahan kering jahe dan yang terendah terjadi pada
perlakuan bubuk bahan kering temulawak. Persentase kehilangan bobot beras sangat
dipengaruhi oleh mortalitas dan kemunculan F1, semakin tinggi mortalitas dan rendahnya
kemuculan F1 maka semakin rendah persen kehilangan bobot beras yang terjadi. Persen
kerusakan yang terjadi pada percobaan masuk ke dalam kategori kerusakan sedang, karena
persen kerusakan berada diantar 3,01%-7,0%. Bubuk bahan kering temulawak mampu
menekan kemunculan F1 dan persen kerusakan beras yang lebih tinggi dibandingkan
dengan jahe dan kencur. Bubuk bahan kering kencur menunjukkan hasil yang lebih lemah
dalam menekan kemunculan F1 dan persen kerusakan beras.
(Program Studi Proteksi Tanaman, Jurusan Perlindungan Tanaman, Fakultas
Pertanian, Universitas Bengkulu)
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | S Agriculture > S Agriculture (General) |
| Divisions: | Faculty of Agriculture > Department of Plant Protection |
| Depositing User: | Sugiarti, S.IPust |
| Date Deposited: | 08 Oct 2025 03:38 |
| Last Modified: | 08 Oct 2025 03:38 |
| URI: | https://repository.unib.ac.id/id/eprint/28144 |

